Puasa Syawal: Dalil, Niat Puasa, dan Keutamaannya


Puasa syawal merupakan salah satu puasa yang memiliki kedudukan cukup tinggi dalam Islam. Hal ini karena terdapat beberapa hadits Nabi yang menjelaskan mengenai keutamaan berpuasa syawal. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini Dalam Islam akan menjelaskan secara lengkap mengenai dalil puasa syawal sesuai sunnah, niat puasa syawal, pahala puasa syawal, hingga pertanyaan-pertanyaan terkait puasa syawal.
Semoga apa yang akan diulas kali ini dapat memberikan manfaat bagi kita, umat muslim. 

Puasa Syawal: Dalil, Niat Puasa, dan Keutamaannya

Dalil Puasa Syawal Sesuai Sunnah

Seperti yang kita tahu, puasa merupakan salah satu perisai umat muslim dalam menahan nafsu dan godaan duniawi. Tak heran apabila sebagai umat Islam, sangat dianjurkan untuk melakukan puasa. Baik itu puasa wajib ataupun puasa sunnah. Mengutip dari situs muslim.or.id[k1] , Rasulullah bersabda:

أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ؟ الصَّوْمُ جُنَّةٌ
Artinya: “Maukah aku tunjukkan padamu pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai” (HR. Tirmidzi, dishahihkan oleh Hasan).

Maksud hadits di atas adalah bahwa puasa memiliki berbagai banyak kebaikan untuk muslim baik di dunia maupun di akhirat. Di dunia, puasa akan menjadi perisai dari perbuatan maksiat. Sedangkan di akhirat, puasa adalah perisai dari siksa api neraka.
Adapun mengenai dalil puasa syawal, dari Tsauban, Rasulullah bersabda:

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ « مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ (مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا)
Artinya: “Barangsiapa berpuasa 6 hari di bulan Syawal setelah idul Fitri, maka ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Karena siapa saja yang melakukan kebaikan, maka akan dibalas 10 kebaikan semisal.” (HR. Ibnu Majah nomor 1715. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hafidzh Abu Thohir).

Maksud dari kata ‘setiap kebaikan akan dibalas 10 kebaikan semisal’ adalah bahwa puasa 6 hari di bulan Syawal akan dibalas dengan 60 hari / 2 bulan kebaikan puasa. Apabila seseorang menjalankan puasa syawal, maka ia sama saja telah berpuasa selama 10 bulan + 2 bulan atau 12 bulan. Itulah mengapa seseorang dianggap telah berpuasa setahun penuh jika menjalankan puasa syawal.
Mengutip dari situs rumaysho.com[k2] , terdapat dalil lain yang memperkuat kedudukan puasa syawal sehingga sangat dianjurkan untuk dilakukan. Dari sahabat Abu Ayyub al- Anshoriy, Rasulullah bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa 6 hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim).

Dalil puasa syawal di atas menjadi pedoman bagi madzhab Syafi’i, Ahmad, dan Abu Daud mengenai dianjurkannya puasa Syawal. Sedangkan menurut penganut madzhab Imam Abu Hanifah dan Imam Malik, hukum puasa syawal adalah makruh. Wa Allahu A’lam.

Niat Puasa Syawal

Mengenai niat Puasa Syawal, situs www.nu.or.id[k3]  menjelaskan lafadl yang dapat diucapkan oleh muslim yang hendak menjalankan puasa syawal adalah sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ الشَّوَّالِ لِلهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitu Shoma Ghodin ‘An Adai Sunnatis Syawal Lillahi Ta’ala

Artinya: Aku berniat puasa sunnah Syawal esok hari karena Allah Ta’ala

Niat puasa syawal tersebut dapat diucapkan sebelum masuk waktu shubuh. Adapun bila muslim ingin menjalankan puasa syawal di pagi hari secara mendadak, maka juga diperbolehkan untuknya berpuasa. Hal ini karena melafalkan niat sebelum shubuh hanya wajib dilakukan untuk puasa wajib seperti Ramadhan. Sedangkan untuk puasa sunnah, tidak apa-apa jika dilafalkan pagi hari selama yang bersangkutan belum makan, minum, ataupun melakukan hal lain yang dapat membatalkan puasa dari Shubuh.

Faedah dan Pahala Puasa Syawal

Seperti yang telah dijelaskan di atas, puasa syawal memiliki keutamaan seperti halnya melakukan puasa setahun penuh. Namun di samping itu, masih terdapat beberapa pahala dan faedah puasa syawal apabila dilakukan oleh umat Islam. Mengutip dari situs rumaysho.com, berikut adalah faedah puasa syawal:
Faedah Pertama, Puasa syawal memiliki kedudukan seperti halnya sholat rawatib, yakni mampu menutupi kekurangan serta menyempurnakan ibadah wajib.
Maksudnya adalah puasa syawal dapat menjadi penyempurna kekurangan-kekurangan yang terdapat pada puasa wajib seperti Ramadhan. Seperti halnya sholat, tentu saja terdapat kekurangan di sana sini yang juga ada di puasa wajib. (Lihat Latho-if Al Ma’arif, Ibnu Rajab Al Hambali, hal. 394, Daar Ibnu Katsir, cetakan kelima, 1420 H [Tahqiq: Yasin Muhammad As Sawaas]
Faedah Kedua, Puasa syawal merupakan pertanda diterimanya amalan yang dilakukan oleh muslim di bulan Ramadhan.
Dalam kitab Latho-if Al Ma’arif, dijelaskan bahwa salah satu tanda Allah menerima amalan seorang hamba adalah Ia akan menunjuki amalan sholeh selanjutnya pada hamba-Nya. Jadi apabila Allah menerima amalan puasa Ramadhan hamba-Nya, maka akan ditunjukkan amalan sholeh berikutnya yakni menjalankan puasa 6 hari di bulan Syawal.
Pendapat tersebut diambil dari perkataan seorang salaf:

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا
Artinya: “Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya, dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 8/417, Daar Thoyyibah, cetakan kedua, 1420 H [Tafsir Surat Al Lail]

Faedah Ketiga, Melaksanakan puasa syawal merupakan salah satu bentuk syukur kepada Allah

Ibnu Rajab mengatakan: “Tak ada nikmat yang lebih besar dari Allah dari pengampunan dosa yang Allah anugerahkan.” (Lihat Kitab Latho-if Al Ma’arif halaman 394).

Faedah Keempat, melaksanakan puasa syawal menunjukkan bahwa ibadah seorang muslim berlangsung secara berkelanjutan.
Amalan muslim di bulan Ramadhan memang dibatasi oleh waktu. Namun ketika seorang muslim menjalankan puasa syawal, maka hal tersebut menunjukkan bahwa mereka secara kontinyu beribadah kepada Allah .

Suatu ketika ‘Alqomah bertanya kepada ‘Aisyah Ummul Mukminin mengenai amalan Rasulullah : “Apakah beliau mengkhususkan hari-hari tertentu untuk beramal?” ‘Aisyah menjawab:
لاَ. كَانَ عَمَلُهُ دِيمَةً
Artinya: “Tidak (beliau tidak mengkhususkan waktu tertentu untuk beramal). Amalan beliau adalah amalan yang kontinyu.” (HR. Bukhari no. 1987 dan Muslim no. 783).

Itulah beberapa faedah dan pahala puasa sunnah syawal. Mengetahui beberapa keutamaan di atas tentu saja sangat dianjurkan bagi kita, umat Islam, untuk melaksanakan puasa di bulan Syawal.

Pertanyaan Mengenai Puasa Syawal

Pada pembahasan di atas, telah dijelaskan secara lengkap mengenai dalil puasa syawal hingga faedah serta keutamaan di dalamnya. Meski demikian, terdapat beberapa pertanyaan yang sering muncul di kalangan muslim mengenai pelaksanaan puasa syawal. Berikut adalah pertanyaan-pertanyaan paling umum mengenai puasa syawal.

Puasa Syawal Apakah Harus Berurutan ?

Seperti yang dijelaskan di atas, puasa syawal dilakukan selama 6 hari. Namun apakah puasa syawal harus ditunaikan secara berurutan dan tidak boleh terpisah? Mengutip dari situs kibar-uk.org, tidak harus melakukan puasa syawal secara berurutan. Selama puasa dilakukan di bulan syawal, maka diperbolehkan. Hal ini berdasarkan Fataawa al-Lajnah ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’:

‘Hari-hari ini (berpuasa Syawal) tidak harus dilakukan setelah Ramadhan. Boleh melakukannya satu hari atau lebih setelah ‘Id, dan mereka boleh menjalankannya secara berurutan atau terpisah selama bulan Syawal, apapun yang lebih mudah bagi seseorang. …… dan ini (hukumnya) tidaklah wajib, melainkan sunnah.: (Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’, 10/391).

Selain itu, landasan dasar pelaksanaan puasa syawal secara berurutan atau terpisah juga didasarkan pada perkataan Imam Nawawi dalam kitab Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab:
“Sahabat-sahabat kami berkata: adalah mustahab untuk berpuasa enam hari Syawal. Dari hadits ini mereka berkata: Sunnah mustahabah melakukannya secara berurutan pada awal-awal Syawal, tapi jika seseorang memisahkannya atau menunda pelaksanaannya hingga akhir Syawal, ini juga diperbolehkan, karena ia masih berada pada makna umum dari hadits tersebut. Kami tidak berbeda pendapat mengenai masalah ini. Dan ini juga pendapat Abu Dawud dan Ahmad” (Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab).

Puasa Syawal atau Qadha Dulu ?

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana apabila seorang muslim ingin melakukan puasa Syawal, namun masih memiliki tanggungan puasa Ramadhan? Jumhur ulama’ sepakat bahwa muslim harus mendahulukan Qadha puasa wajib (Ramadhan) terlebih dahulu sebelum menjalankan puasa Syawal.

“Jika seseorang tertinggal beberapa hari (puasa) dalam Ramadhan, maka ia harus berpuasa terlebih dahulu (Qadha), lalu baru melanjutkannya dengan 6 hari puasa Syawal. Karena ia tak dapat melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal, kecuali ia telah menyempurnakan Ramadhannya terlebih dahulu.” (Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa’imah lil Buhuuts wal Ifta’, 10/392).

Itulah beberapa pertanyaan terkait puasa syawal yang sering ditanyakan oleh umat Islam. Dari penjelasan di atas, maka dapat kita ambil kesimpulan. Puasa syawal merupakan ibadah puasa yang memiliki banyak faedah, keutamaan, dan pahala di dalamnya. Dalam melakukan puasa syawal selama 6 hari, dianjurkan untuk menyelesaikan tanggungan (Qadha) puasa Ramadhan terlebih dahulu.
Semoga apa yang dibahas oleh Dalam Islam pada kesempatan kali ini dapat memberikan manfaat bagi Anda. Amin ya Rabbal Alamin.


 [k1]https://muslim.or.id/377-puasa-syawal-puasa-seperti-setahun-penuh.html

 [k2]https://rumaysho.com/521-jangan-lupa-lakukan-puasa-syawal.html

 [k3]https://www.nu.or.id/post/read/69634/lafal-niat-puasa-syawal-dan-ketentuan-waktunya

0 Response to "Puasa Syawal: Dalil, Niat Puasa, dan Keutamaannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel