Aqiqah: Dalil, Waktu Pelaksanaan, Tata Cara, Tujuan, dan Doa Aqiqah
Aqiqah merupakan salah satu ibadah untuk mendekatkan diri kepada
Allah ﷻ sebagai bukti rasa syukur atas kelahiran
anak. Hukum aqiqah sendiri menurut pendapat jumhur ulama adalah sunnah
muakkadah atau sunnah yang ditekankan. Tak hanya itu, sebagian ulama
berpendapat bahwa aqiqah menjadi ‘penebus’ atas lahirnya anak ke dunia. Dengan begitu,
setan yang selalu mengikuti sejak kelahiran anak dapat dijauhkan sehingga anak
tersebut dapat menjadi lebih sholeh serta bertaqwa kepada Allah ﷻ.
Berbicara mengenai aqiqah, pada kesempatan kali ini Dalam Islam
akan menjelaskan secara terperinci mengenai dalil aqiqah, waktu aqiqah, tata
cara aqiqah, tujuan aqiqah, hikmah aqiqah, doa aqiqah, dan hukum aqiqah setelah
dewasa. Agar memahami tentang aqiqah lebih dalam, sebaiknya Anda membaca ulasan
berikut hingga akhir sehingga dapat memperoleh manfaatnya. Amin ya Rabbal
Alamin.
Dalil Aqiqah
Seperti yang dijelaskan di atas bahwa aqiqah merupakan ibadah untuk
mendekatkan diri pada Allah ﷻ. Mengenai dalil
aqiqah, mengutip dari situs almanhaj.or.id[k1] , terdapat dalil dalil aqiqah, yakni:
عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِيّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَعَ اْلغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَاَهْرِيْقُوْا عَنْهُ دَمًا وَ اَمِيْطُوْا عَنْهُ اْلاَذَىArtinya: ‘Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasullullah bersabda: “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya”. (HR. Bukhari nomor 5472)
Pada
hadits di atas, dijelaskan bahwa aqiqah dilakukan dengan cara menyembelih hewan
serta menghilangkan semua gangguan darinya atau dari bayi yang diaqiqahi. Sebagian
ulama’ berpendapat bahwa kata-kata “menghilangkan semua gangguan” diartikan sebagai
mencukur rambut bayi. Pendapat ini terdapat dalam kitab Nailul Authar (5/35)
dan kitab Fathul Bari (9/593).
Selain
hadits di atas, terdapat dalil aqiqah lainnya. Yakni:
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّىArtinya: “Dari Samurah bin Jundab ia berkata: Rasulullah bersabada: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama, dan dicukur rambutnya”. (HR. Abu Dawud no. 2838, Ibnu Majah no. 3164, Tirmidzi no. 1552, Nasa’i 7/16, dan Ahmad 5/7-8).
Pada
dua dalil aqiqah tersebut, secara garis besar dijelaskan mengenai tata cara
melaksanakan aqiqah mulai dari menyembelih hewan aqiqah, mencukur rambut bayi,
hingga memberikan nama untuk bayi.
Waktu Aqiqah
Mengenai waktu aqiqah, jumhur ulama’ sepakat bahwa aqiqah
dilaksanakan pada hari ketujuh kelahiran anak. Meski demikian, sebagian ulama’
berpendapat bahwa apabila telah lewat 7 hari kelahiran dan aqiqah belum
dilaksanakan, maka dapat dilakukan di lain hari.
Mengutip dari situs rumaysho.com[k2] , terdapat hadits yang menjadi pedoman mengenai waktu pelaksanaan
aqiqah. Yakni:
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »Artinya: ‘Dari Samurah bin Jundub, Rasulullah ﷺ bersabda: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ke tujuh, digundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Daud nomor 2838, Ibnu Majah nomor 3165, An-Nasai nomor 4220, dan Ahmad 5/12. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani).
Pada
hadits di atas, dijelaskan tentang waktu aqiqah, yakni pada hari ketujuh. Dalam
kitab Roudhotun Nadiyah syarh Ad-Duroril Bahiyah, Shidiq Hasan Khon
halaman 349 menerangkan terdapat keutamaan aqiqah di hari ketujuh kelahiran
anak.
Shidiq
Hasan Khon rahimahullah menjelaskan, “Sudah seharusnya terdapat selang
waktu antara hari kelahiran serta waktu aqiqah. Di awal kelahiran tentu
keluarga masih sibuk untuk merawat bayi dan ibunya. Sehingga pada awal
kelahiran, jangan membebani dengan kesibukan lain. Selain itu, mencari kambing
juga membutuhkan usaha. Seandainya waktu pelaksanaan aqiqah disyariatkan di
hari pertama, tentu sangat memberatkan. Adapun hari ke tujuh adalah hari yang
cukup lapang untuk melaksanakan aqiqah.”
Bagaimana Menghitung Hari Ke Tujuh Kelahiran Bayi ?
Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, disebutkan
وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ يوم الولادة يحسب من السّبعة ، ولا تحسب اللّيلة إن ولد ليلاً ، بل يحسب اليوم الّذي يليهاArtinya: “Jumhur ulama pakar fiqih berpandangan bahwa waktu siang pada kelahiran adalah awal hitungan tujuh hari. Sedangkan waktu malam tidak masuk dalam hitungan jika bayi dilahirkan di malam hari, namun yang jadi hitungan adalah hari berikutnya.”
Misalnya, seorang bayi terlahir pada hari Senin (10/06), pukul 08.00
WIB, maka hari Senin merupakan hari pertama kelahiran bayi. Sehingga hari ketujuh
adalah pada hari Ahad (16/06).
Sedangkan jika bayi lahir di hari Senin (10/06) pukul 18.00 WIB, maka
hari tersebut tidak dihitung sebagai hari pertama kelahiran, melainkan
besoknya, yakni hari Selasa (11/06). Jadi aqiqahnya jatuh pada hari Senin (17/06).
Bagaimana Apabila Aqiqah Tidak Dapat Dilaksanakan di Hari Ketujuh Kelahiran ?
Seperti yang dijelaskan di atas, jumhur ulama’ sepakat bahwa waktu
paling afdhol melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh kelahiran bayi. Kemudian
bagaimana jika tidak bisa melakukan aqiqah di hari ketujuh? Dalam hal ini,
terdapat perbedaan pandangan ulama’.
Aqiqah Dilaksanakan Sebelum Hari Ketujuh
Mengutip dari situs rumaysho.com[k3] , ulama’ madzhab Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hambali
berpandangan bahwa aqiqah yang dilakukan sebelum hari ketujuh dianggap tidak
sah. Jadi hanya sembelihan biasa saja, bukan aqiqah. Dengan kata lain, jumhur
ulama’ sepakat bahwa aqiqah tidak boleh dilaksanakan sebelum hari ketujuh
kelahiran bayi.
Aqiqah Dilaksanakan Setelah Lewat Hari Ketujuh
Sedangkan ketika sudah melewati hari ketujuh kelahiran bayi, pada
ulama’ memiliki perbedaan pendapat. Di antaranya adalah:
- Syafi;iyah : Aqiqah tetap dapat dilaksanakan sebelum anak baligh. Dan ini menjadi kewajiban ayah untuk melaksanakan aqiqah. Namun apabila anak telah melewati usia baligh dan belum diaqiqahi, maka tanggungan aqiqah dapat dilaksanakan oleh anak tersebut.
- Hambali : Jika aqiqah tidak dapat dilaksanakan pada hari ketujuh, maka disunnahkan melaksanakannya di hari keempat belas. Apabila masih tidak bisa, maka dapat dilaksanakan di hari kedua puluh satu.
- Malikiyah : Jika telah melewati hari ketujuh, maka hukum aqiqah gugur.
Wa Allahu A’lam.
Tata Cara Aqiqah Menurut Islam
Pada uraian di atas, Dalam Islam telah menjelaskan mengenai dalil
aqiqah dan waktu aqiqah. Kini saatnya untuk membahas mengenai tata cara aqiqah
menurut Islam. Berikut adalah tata cara aqiqah yang benar menurut Islam:
1. Menyembelih Hewan
Tata
cara aqiqah yang pertama adalah menyembelih hewan yang masuk dalam sunnah
aqiqah. Mengenai jumlahnya, untuk anak laki-laki 2 ekor kambing dan untuk anak
perempuan 1 ekor kambing. Hal ini mengacu pada hadits yang diriwayatkan oleh
Abu Dawud:
عن أم كرز قالت سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لا يضركم أذكرانا كن أم إناثاArtinya: ‘Dari Ummu Kurz ia berkata: aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Untuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk akan perempuan adalah seekor kambing. Tidak mengapa bagi kalian apakah ia kambing jantan atau betina.” (HR. Abu Dawud no. 2834-2835).
Jumhur
ulama’ sepakat bahwa syarat hewan aqiqah hampir sama dengan hewan qurban mulai
dari jenis, umur, hingga bebas dari cacat dan penyakit. Pendapat ini
berdasarkan hadits:
لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً, إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ اَلضَّأْنِArtinya: “Jangan kalian menyembelih kecuali musinnah. Kecuali jika kalian merasa sulit, maka sembelihlah jadza’ah dari domba.” (HR. Muslim no.1963).
Maksud
‘Musinnah’ adalah hewan yang telah memiliki umur cukup. Untuk kambing, usia
minimalnya adalah 1 tahun. Untuk sapi 2 tahun. Dan untuk unta 5 tahun. Sedangkan
kata ‘Jadzaah’ berarti dombat yang berusia sekitar 6 bulan hingga 1 tahun.
2. Mencukur Rambut Bayi dan Memberikan Nama Padanya
Tata
cara aqiqah yang berikutnya adalah mencukur rambut bayi serta memberikan nama
yang bagus padanya. Adapun hadits mengenai anjuran mencukur rambut bayi telah
dijelaskan di atas. Jumhur ulama’ sepakat bahwa mencukur rambut bayi merupakan
sebuah sunnah aqiqah. Apabila dilakukan akan mendapatkan pahala dan apabila
ditinggalkan tidak akan mendapatkan dosa.
Selain
itu, orang tua juga dapat memberikan nama yang baik untuk bayi. Dalam Islam,
nama yang dianjurkan adalah nama yang memiliki kata Abdullah dan Abdurrahman. Hal
ini sesuai dengan hadits Rasulullah ﷺ:
إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِArtinya: “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman,” (HR. Muslim no 2132).
Dari
hadits di atas, dua nama yang paling dicintai oleh Allah adalah nama Abdullah
dan Abdurrahman bagi anak laki-laki. Selain dua nama tersebut, seorang muslim
dapat memberikan nama yang berarti baik dari Asma’ul Husna, Sahabat Nabi, dan
Ummul Mu’minin untuk perempuan.
3. Memasak Daging Aqiqah
Tata
cara aqiqah yang selanjutnya yakni memasak daging aqiqah. Mengenai memasak
daging aqiqah, para ulama’ memiliki persilangan pendapat. Ada yang yang
mengharuskan daging aqiqah dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan. Ada pula
yang memperbolehkan membagikan daging aqiqah dalam kondisi mentah.
Memang
tidak ada hadits yang spesifik menjelaskan mengenai bagaimana membagikan daging
aqiqah, apakah harus dimasak terlebih dahulu atau tidak. Dalam hal ini, Imam
Al-Baghawi dalam kitab Atahzib menjelaskan:
ويستحب الا يتصدق بلحمها نيئا بل يطبخه ويبعث الى الفقراء بالصحافArtinya: “Dianjurkan untuk tidak membagikan daging hewan aqiqah dalam keadaan mentah, akan tetapi dimasak terlebih dahulu kemudian diantarkan kepada orang fakir dengan nampan.” (Imam Al-Baghawi dalam kitab Atahzib).
Pendapat
di atas juga diperkuat dengan ungkapan yang terdapat pada kitab Al-Musfashshal
fi Ahkamil Aqiqah:
واستحب كثير من اهل العلم ان لا يتصدق نيئا بل يطبخ ويتصدق به على الفقراء بارساله لهمArtinya: “Kebanyakan ahlul ilmi mengajurkan agar daging hewan aqiqah tidak dibagikan dalam keadaan mentah, namun dimasak terlebih dahulu kemudian disedekahkan pada orang fakir.” (kitab Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah).
Dari
pendapat tersebut, maka tata cara aqiqah yang disunnahkan adalah memasak daging
aqiqah terlebih dahulu sebelum dibagikan. Wa Allahu A’lam.
Tujuan Aqiqah
Mengenai tujuan aqiqah, memang tidak terdapat dalil yang
menjelaskannya secara detail. Namun sebagai umat Islam yang diberikan kemampuan
untuk berpikir, maka sudah seyogyanya kita mampu memikirkan mengenai tujuan
dari ibadah kepada Allah ﷻ, termasuk aqiqah.
Hal ini berpedoman pada firman Allah ﷻ dalam Surat Ali Imran ayat 191:
الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِArtinya: “..(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran [3]: 191).
Oleh
karena itu, Dalam Islam akan mencoba mengambil hikmah serta tujuan aqiqah itu
sendiri. Di antaranya adalah sebagai berikut:
1. Menghidupkan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam
Ketika
menjalankan aqiqah, berarti mereka juga telah menghidupkan sunnah Rasulullah
Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan begitu, maka pahala akan
mengalir kepadanya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah ﷺ :
مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًاArtinya: “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun”. (HR. Ibnu Majah no. 209. Sanad pada hadits ini terdapat kelemahan namun juga dikuatkan oleh riwayat lainnya. Oleh karena itu, hadits ini dishahihkan oleh syeikh al-Albani).
2. Menjalin Hubungan Ukhuwah Islamiyah terhadap Sesama Manusia
Dalam
pelaksanaan aqiqah, umumnya shohibul aqiqah akan mengundang muslim lain dalam
merayakannya. Hal ini tentu akan membuat hubungan sesama muslim ataupun manusia
lain terjalin dengan baik.
3. ‘Membayar’ Tergadainya Anak yang Lahir
Seperti
yang dijelaskan pada pembahasan di atas, salah satu tujuan aqiqah adalah
sebagai ‘penebus tergadainya’ anak atas kelahirannya.
مرهون بعقيقته يعني أنه محبوس سلامته عن الآفات بها أو أنه كالشيء المرهون لا يتم الاستمتاع به دون أن يقابل بها لأنه نعمة من الله على والديه فلا بد لهما من الشكر عليهArtinya: “Tergadaikan dengan aqiqahnya, artinya jaminan keselamatan untuknya dari segala bahaya, tertahan dengan aqiqahnya. Atau si anak seperti sesuatu yang tergadai, tidak bisa dinikmati secara sempurna, tanpa ditebus dengan aqiqah. Karena anak merupakan nikmat Allah bagi orang tuanya, sehingga keduanya harus bersyukur. (Mirqah al-Mafatih, 12/412).
4. Menghilangkan Penyakit
Tujuan
aqiqah yang selanjutnya adalah menghilangkan penyakit dari bayi. Hal ini karena
dalam pelaksanaan aqiqah, terdapat salah satu tata cara aqiqah berupa mencukur
rambut bayi. Ini merupakan sebuah kiasan atau perumpamaan agar segala penyakit
pada bayi dapat terbuang dengan aqiqahnya.
5. Anak Mendapatkan Doa yang Baik oleh Muslim
Dalam
pelaksanaan aqiqah, umumnya disertai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta
doa-doa untuk bayi yang diaqiqahi. Hal ini tentu akan sangat berguna bagi
kesehatan fisik ataupun mental bayi tersebut.
6. Anak Mendapatkan Nama yang Bagus
Salah
satu tujuan aqiqah bagi anak yang selanjutnya adalah diberikannya nama yang
bagus oleh orang tua. Beberapa anjuran nama yang bagus untuk anak. Hal ini
berlandaskan pada hadits berikut:
إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِArtinya: “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman”. (HR. Muslim no. 2132).
Dari
hadits di atas, bahkan ada sekitar 300 sahabat Nabi yang memiliki nama
Abdullah. Selain nama tersebut, ada beberapa nama lain yang dianjurkan oleh
para ulama. Di antaranya adalah Asma’ul Husna, nama Nabi dan Rasul, nama-nama
orang sholih, dan nama-nama istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
untuk bayi perempuan.
Itulah
beberapa tujuan aqiqah dan hikmah pelaksanaan aqiqah. Dengan begitu, selain
mampu mendekatkan diri pada Allah ﷻ,
aqiqah juga dapat memberikan banyak manfaat baik pada orang tua maupun bayi
yang dilahirkan.
Doa Aqiqah
Pada pembahasan terakhir, Dalam Islam akan memaparkan mengenai doa
aqiqah. Untuk lebih jelasnya, kami akan membagi doa-doa seputar aqiqah mulai
dari doa sembelih hewan aqiqah hingga doa walimatul Aqiqah. Mengutip dari situs
www.nu.or.id[k4] , berikut adalah doa seputar aqiqah:
Doa Menyembelih Hewan Aqiqah
بِسْمِ
اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ [ اللهم مِنْكَ وَلَكَ ] اللهم تَقَبَّلْ مِنِّي هَذِهِ
عَقِيْقَةُ
Latin:
Bismillah, Allahu Akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabba minni
hadzihi aqiqatu …….. (sebut nama bayi yang diaqiqahi)
Doa Mencukur Rambut Bayi
بِسْمِ
اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَللهم
نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ, اللهم سِرُّ اللهِ نُوْرُ
النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ
رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Latin:
“Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma nuurus samaawaati
wa nuurus syamsi wal qomar. Allahumma sirrullahi nuurun nubuwwati rasulullahi
shallallahu ‘alahi wa sallam wal hamdu lillahi rabbil alamin.”
Doa Walimatul Aqiqah
اللهم
احْفَظْهُ مِنْ شَرِّالْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيْعِ
السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ
الْمَحْمُوْدَةِ وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ أَلنَّافِذَةِ نُقَدِّمُ
بِهَا عَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتَنَا مِنْ حُقُوْقِ رُبُوْبِيَّتِكَ
الْكَرِيْمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ
مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اللهم
اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ
الْقُرْآنِ وَلَا تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَ
الظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ
Latin:
“Allâhummahfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyâni wa min
jamî’is sayyiâti wal ‘ishyâni wahrishu bihadlânatika wa kafâlatika al-mahmûdati
wa bidawâmi ‘inâyatika wa ri’âyatika an-nafîdzati nuqaddimu bihâ ‘alal qiyâmi
bimâ kalaftanâ min huqûqi rububiyyâtika al-karîmati nadabtanâ ilaihi fîmâ
bainanâ wa baina khalqika min makârimil akhlâqi wa athyabu mâ fadldlaltanâ
minal arzâqi. Allâhummaj’alnâ wa iyyâhum min ahlil ‘ilmi wa ahlil khairi wa
ahlil qur`âni wa lâ taj’alnâ wa iyyâhum min ahlisy syarri wadl dloiri wadz
dzolami wath thughyâni.”
Itulah
beberapa doa aqiqah yang harus Anda ketahui. Dengan begitu, Anda dapat
melaksanakan ibadah aqiqah dengan sempurna demi mendekatkan diri pada Allah ﷻ.
Demikian
ulasan lengkap mengenai aqiqah yang mencakup dalil aqiqah, waktu aqiqah, tata
cara aqiqah, tujuan aqiqah, dan doa aqiqah. Semoga apa yang kami ulas pada
kesempatan kali ini memberikan manfaat bagi Anda semua. Amin Ya Rabbal
Alamin.
0 Response to "Aqiqah: Dalil, Waktu Pelaksanaan, Tata Cara, Tujuan, dan Doa Aqiqah"
Post a Comment