Aqiqah: Dalil, Waktu Pelaksanaan, Tata Cara, Tujuan, dan Doa Aqiqah


Aqiqah merupakan salah satu ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah sebagai bukti rasa syukur atas kelahiran anak. Hukum aqiqah sendiri menurut pendapat jumhur ulama adalah sunnah muakkadah atau sunnah yang ditekankan. Tak hanya itu, sebagian ulama berpendapat bahwa aqiqah menjadi ‘penebus’ atas lahirnya anak ke dunia. Dengan begitu, setan yang selalu mengikuti sejak kelahiran anak dapat dijauhkan sehingga anak tersebut dapat menjadi lebih sholeh serta bertaqwa kepada Allah

Aqiqah: Dalil, Waktu Pelaksanaan, Tata Cara, Tujuan, dan Doa Aqiqah

Berbicara mengenai aqiqah, pada kesempatan kali ini Dalam Islam akan menjelaskan secara terperinci mengenai dalil aqiqah, waktu aqiqah, tata cara aqiqah, tujuan aqiqah, hikmah aqiqah, doa aqiqah, dan hukum aqiqah setelah dewasa. Agar memahami tentang aqiqah lebih dalam, sebaiknya Anda membaca ulasan berikut hingga akhir sehingga dapat memperoleh manfaatnya. Amin ya Rabbal Alamin

Dalil Aqiqah

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa aqiqah merupakan ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah . Mengenai dalil aqiqah, mengutip dari situs almanhaj.or.id[k1] , terdapat dalil dalil aqiqah, yakni:
عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ الضَّبِيّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: مَعَ اْلغُلاَمِ عَقِيْقَةٌ فَاَهْرِيْقُوْا عَنْهُ دَمًا وَ اَمِيْطُوْا عَنْهُ اْلاَذَى
Artinya: ‘Dari Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia berkata: Rasullullah bersabda: “Aqiqah dilaksanakan karena kelahiran bayi, maka sembelihlah hewan dan hilangkanlah semua gangguan darinya”. (HR. Bukhari nomor 5472)
Pada hadits di atas, dijelaskan bahwa aqiqah dilakukan dengan cara menyembelih hewan serta menghilangkan semua gangguan darinya atau dari bayi yang diaqiqahi. Sebagian ulama’ berpendapat bahwa kata-kata “menghilangkan semua gangguan” diartikan sebagai mencukur rambut bayi. Pendapat ini terdapat dalam kitab Nailul Authar (5/35) dan kitab Fathul Bari (9/593).

Selain hadits di atas, terdapat dalil aqiqah lainnya. Yakni:
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: كُلُّ غُلاَمٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيْقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَ يُحْلَقُ وَ يُسَمَّى
Artinya: “Dari Samurah bin Jundab ia berkata: Rasulullah bersabada: “Semua anak bayi tergadaikan dengan aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi nama, dan dicukur rambutnya”. (HR. Abu Dawud no. 2838, Ibnu Majah no. 3164, Tirmidzi no. 1552, Nasa’i 7/16, dan Ahmad 5/7-8).
Pada dua dalil aqiqah tersebut, secara garis besar dijelaskan mengenai tata cara melaksanakan aqiqah mulai dari menyembelih hewan aqiqah, mencukur rambut bayi, hingga memberikan nama untuk bayi. 

Waktu Aqiqah

Mengenai waktu aqiqah, jumhur ulama’ sepakat bahwa aqiqah dilaksanakan pada hari ketujuh kelahiran anak. Meski demikian, sebagian ulama’ berpendapat bahwa apabila telah lewat 7 hari kelahiran dan aqiqah belum dilaksanakan, maka dapat dilakukan di lain hari.
Mengutip dari situs rumaysho.com[k2] , terdapat hadits yang menjadi pedoman mengenai waktu pelaksanaan aqiqah. Yakni:
عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى »
Artinya: ‘Dari Samurah bin Jundub, Rasulullah bersabda: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ke tujuh, digundul rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Daud nomor 2838, Ibnu Majah nomor 3165, An-Nasai nomor 4220, dan Ahmad 5/12. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani).
Pada hadits di atas, dijelaskan tentang waktu aqiqah, yakni pada hari ketujuh. Dalam kitab Roudhotun Nadiyah syarh Ad-Duroril Bahiyah, Shidiq Hasan Khon halaman 349 menerangkan terdapat keutamaan aqiqah di hari ketujuh kelahiran anak. 

Shidiq Hasan Khon rahimahullah menjelaskan, “Sudah seharusnya terdapat selang waktu antara hari kelahiran serta waktu aqiqah. Di awal kelahiran tentu keluarga masih sibuk untuk merawat bayi dan ibunya. Sehingga pada awal kelahiran, jangan membebani dengan kesibukan lain. Selain itu, mencari kambing juga membutuhkan usaha. Seandainya waktu pelaksanaan aqiqah disyariatkan di hari pertama, tentu sangat memberatkan. Adapun hari ke tujuh adalah hari yang cukup lapang untuk melaksanakan aqiqah.”

Bagaimana Menghitung Hari Ke Tujuh Kelahiran Bayi ?

Dalam Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah, disebutkan
وذهب جمهور الفقهاء إلى أنّ يوم الولادة يحسب من السّبعة ، ولا تحسب اللّيلة إن ولد ليلاً ، بل يحسب اليوم الّذي يليها
Artinya: “Jumhur ulama pakar fiqih berpandangan bahwa waktu siang pada kelahiran adalah awal hitungan tujuh hari. Sedangkan waktu malam tidak masuk dalam hitungan jika bayi dilahirkan di malam hari, namun yang jadi hitungan adalah hari berikutnya.”
Misalnya, seorang bayi terlahir pada hari Senin (10/06), pukul 08.00 WIB, maka hari Senin merupakan hari pertama kelahiran bayi. Sehingga hari ketujuh adalah pada hari Ahad (16/06). 

Sedangkan jika bayi lahir di hari Senin (10/06) pukul 18.00 WIB, maka hari tersebut tidak dihitung sebagai hari pertama kelahiran, melainkan besoknya, yakni hari Selasa (11/06). Jadi aqiqahnya jatuh pada hari Senin (17/06). 

Bagaimana Apabila Aqiqah Tidak Dapat Dilaksanakan di Hari Ketujuh Kelahiran ?

Seperti yang dijelaskan di atas, jumhur ulama’ sepakat bahwa waktu paling afdhol melaksanakan aqiqah adalah pada hari ketujuh kelahiran bayi. Kemudian bagaimana jika tidak bisa melakukan aqiqah di hari ketujuh? Dalam hal ini, terdapat perbedaan pandangan ulama’. 

Aqiqah Dilaksanakan Sebelum Hari Ketujuh
Mengutip dari situs rumaysho.com[k3] , ulama’ madzhab Syafi’iyah, Malikiyah, Hanafiyah, dan Hambali berpandangan bahwa aqiqah yang dilakukan sebelum hari ketujuh dianggap tidak sah. Jadi hanya sembelihan biasa saja, bukan aqiqah. Dengan kata lain, jumhur ulama’ sepakat bahwa aqiqah tidak boleh dilaksanakan sebelum hari ketujuh kelahiran bayi. 

Aqiqah Dilaksanakan Setelah Lewat Hari Ketujuh
Sedangkan ketika sudah melewati hari ketujuh kelahiran bayi, pada ulama’ memiliki perbedaan pendapat. Di antaranya adalah:

  • Syafi;iyah : Aqiqah tetap dapat dilaksanakan sebelum anak baligh. Dan ini menjadi kewajiban ayah untuk melaksanakan aqiqah. Namun apabila anak telah melewati usia baligh dan belum diaqiqahi, maka tanggungan aqiqah dapat dilaksanakan oleh anak tersebut.
  • Hambali : Jika aqiqah tidak dapat dilaksanakan pada hari ketujuh, maka disunnahkan melaksanakannya di hari keempat belas. Apabila masih tidak bisa, maka dapat dilaksanakan di hari kedua puluh satu.
  • Malikiyah : Jika telah melewati hari ketujuh, maka hukum aqiqah gugur.
Wa Allahu A’lam

Tata Cara Aqiqah Menurut Islam

Pada uraian di atas, Dalam Islam telah menjelaskan mengenai dalil aqiqah dan waktu aqiqah. Kini saatnya untuk membahas mengenai tata cara aqiqah menurut Islam. Berikut adalah tata cara aqiqah yang benar menurut Islam:

1. Menyembelih Hewan

Tata cara aqiqah yang pertama adalah menyembelih hewan yang masuk dalam sunnah aqiqah. Mengenai jumlahnya, untuk anak laki-laki 2 ekor kambing dan untuk anak perempuan 1 ekor kambing. Hal ini mengacu pada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:
عن أم كرز قالت سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول : عن الغلام شاتان وعن الجارية شاة لا يضركم أذكرانا كن أم إناثا
Artinya: ‘Dari Ummu Kurz ia berkata: aku mendengar Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam bersabda: “Untuk seorang anak laki-laki adalah dua ekor kambing dan untuk akan perempuan adalah seekor kambing. Tidak mengapa bagi kalian apakah ia kambing jantan atau betina.” (HR. Abu Dawud no. 2834-2835).
Jumhur ulama’ sepakat bahwa syarat hewan aqiqah hampir sama dengan hewan qurban mulai dari jenis, umur, hingga bebas dari cacat dan penyakit. Pendapat ini berdasarkan hadits:
لَا تَذْبَحُوا إِلَّا مُسِنَّةً, إِلَّا أَنْ يَعْسُرَ عَلَيْكُمْ فَتَذْبَحُوا جَذَعَةً مِنَ اَلضَّأْنِ
Artinya: “Jangan kalian menyembelih kecuali musinnah. Kecuali jika kalian merasa sulit, maka sembelihlah jadza’ah dari domba.” (HR. Muslim no.1963).
Maksud ‘Musinnah’ adalah hewan yang telah memiliki umur cukup. Untuk kambing, usia minimalnya adalah 1 tahun. Untuk sapi 2 tahun. Dan untuk unta 5 tahun. Sedangkan kata ‘Jadzaah’ berarti dombat yang berusia sekitar 6 bulan hingga 1 tahun.

2. Mencukur Rambut Bayi dan Memberikan Nama Padanya

Tata cara aqiqah yang berikutnya adalah mencukur rambut bayi serta memberikan nama yang bagus padanya. Adapun hadits mengenai anjuran mencukur rambut bayi telah dijelaskan di atas. Jumhur ulama’ sepakat bahwa mencukur rambut bayi merupakan sebuah sunnah aqiqah. Apabila dilakukan akan mendapatkan pahala dan apabila ditinggalkan tidak akan mendapatkan dosa. 

Selain itu, orang tua juga dapat memberikan nama yang baik untuk bayi. Dalam Islam, nama yang dianjurkan adalah nama yang memiliki kata Abdullah dan Abdurrahman. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah :
إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ
Artinya: “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman,” (HR. Muslim no 2132).
Dari hadits di atas, dua nama yang paling dicintai oleh Allah adalah nama Abdullah dan Abdurrahman bagi anak laki-laki. Selain dua nama tersebut, seorang muslim dapat memberikan nama yang berarti baik dari Asma’ul Husna, Sahabat Nabi, dan Ummul Mu’minin untuk perempuan. 

3. Memasak Daging Aqiqah

Tata cara aqiqah yang selanjutnya yakni memasak daging aqiqah. Mengenai memasak daging aqiqah, para ulama’ memiliki persilangan pendapat. Ada yang yang mengharuskan daging aqiqah dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan. Ada pula yang memperbolehkan membagikan daging aqiqah dalam kondisi mentah. 

Memang tidak ada hadits yang spesifik menjelaskan mengenai bagaimana membagikan daging aqiqah, apakah harus dimasak terlebih dahulu atau tidak. Dalam hal ini, Imam Al-Baghawi dalam kitab Atahzib menjelaskan:
ويستحب الا يتصدق بلحمها نيئا بل يطبخه ويبعث الى الفقراء بالصحاف
Artinya: “Dianjurkan untuk tidak membagikan daging hewan aqiqah dalam keadaan mentah, akan tetapi dimasak terlebih dahulu kemudian diantarkan kepada orang fakir dengan nampan.” (Imam Al-Baghawi dalam kitab Atahzib).
Pendapat di atas juga diperkuat dengan ungkapan yang terdapat pada kitab Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah:
واستحب كثير من اهل العلم ان لا يتصدق نيئا بل يطبخ ويتصدق به على الفقراء بارساله لهم
Artinya: “Kebanyakan ahlul ilmi mengajurkan agar daging hewan aqiqah tidak dibagikan dalam keadaan mentah, namun dimasak terlebih dahulu kemudian disedekahkan pada orang fakir.” (kitab Al-Musfashshal fi Ahkamil Aqiqah).
Dari pendapat tersebut, maka tata cara aqiqah yang disunnahkan adalah memasak daging aqiqah terlebih dahulu sebelum dibagikan. Wa Allahu A’lam

Tujuan Aqiqah

Mengenai tujuan aqiqah, memang tidak terdapat dalil yang menjelaskannya secara detail. Namun sebagai umat Islam yang diberikan kemampuan untuk berpikir, maka sudah seyogyanya kita mampu memikirkan mengenai tujuan dari ibadah kepada Allah , termasuk aqiqah. 

Hal ini berpedoman pada firman Allah dalam Surat Ali Imran ayat 191:
الَّذِیۡنَ یَذۡکُرُوۡنَ اللّٰہَ قِیٰمًا وَّ قُعُوۡدًا وَّ عَلٰی جُنُوۡبِہِمۡ وَ یَتَفَکَّرُوۡنَ فِیۡ خَلۡقِ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقۡتَ ہٰذَا بَاطِلًا ۚ سُبۡحٰنَکَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: “..(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS. Ali Imran [3]: 191).
Oleh karena itu, Dalam Islam akan mencoba mengambil hikmah serta tujuan aqiqah itu sendiri. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Menghidupkan Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ketika menjalankan aqiqah, berarti mereka juga telah menghidupkan sunnah Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan begitu, maka pahala akan mengalir kepadanya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah :
مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِى فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا
Artinya: “Barangsiapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku, kemudian diamalkan oleh manusia, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala orang-orang yang mengamalkannya, dengan tidak mengurangi pahala mereka sedikit pun”. (HR. Ibnu Majah no. 209. Sanad pada hadits ini terdapat kelemahan namun juga dikuatkan oleh riwayat lainnya. Oleh karena itu, hadits ini dishahihkan oleh syeikh al-Albani).

2. Menjalin Hubungan Ukhuwah Islamiyah terhadap Sesama Manusia

Dalam pelaksanaan aqiqah, umumnya shohibul aqiqah akan mengundang muslim lain dalam merayakannya. Hal ini tentu akan membuat hubungan sesama muslim ataupun manusia lain terjalin dengan baik. 

3. ‘Membayar’ Tergadainya Anak yang Lahir

Seperti yang dijelaskan pada pembahasan di atas, salah satu tujuan aqiqah adalah sebagai ‘penebus tergadainya’ anak atas kelahirannya.
مرهون بعقيقته يعني أنه محبوس سلامته عن الآفات بها أو أنه كالشيء المرهون لا يتم الاستمتاع به دون أن يقابل بها لأنه نعمة من الله على والديه فلا بد لهما من الشكر عليه
Artinya: “Tergadaikan dengan aqiqahnya, artinya jaminan keselamatan untuknya dari segala bahaya, tertahan dengan aqiqahnya. Atau si anak seperti sesuatu yang tergadai, tidak bisa dinikmati secara sempurna, tanpa ditebus dengan aqiqah. Karena anak merupakan nikmat Allah bagi orang tuanya, sehingga keduanya harus bersyukur. (Mirqah al-Mafatih, 12/412).

4. Menghilangkan Penyakit

Tujuan aqiqah yang selanjutnya adalah menghilangkan penyakit dari bayi. Hal ini karena dalam pelaksanaan aqiqah, terdapat salah satu tata cara aqiqah berupa mencukur rambut bayi. Ini merupakan sebuah kiasan atau perumpamaan agar segala penyakit pada bayi dapat terbuang dengan aqiqahnya. 

5. Anak Mendapatkan Doa yang Baik oleh Muslim

Dalam pelaksanaan aqiqah, umumnya disertai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an serta doa-doa untuk bayi yang diaqiqahi. Hal ini tentu akan sangat berguna bagi kesehatan fisik ataupun mental bayi tersebut. 

6. Anak Mendapatkan Nama yang Bagus

Salah satu tujuan aqiqah bagi anak yang selanjutnya adalah diberikannya nama yang bagus oleh orang tua. Beberapa anjuran nama yang bagus untuk anak. Hal ini berlandaskan pada hadits berikut:
إِنَّ أَحَبَّ أَسمَائِكُمْ إِلَى اللَّهِ عَبدُاللَّهِ وَ عَبدُ الرَّحْمَنِ
Artinya: “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman”. (HR. Muslim no. 2132).
Dari hadits di atas, bahkan ada sekitar 300 sahabat Nabi yang memiliki nama Abdullah. Selain nama tersebut, ada beberapa nama lain yang dianjurkan oleh para ulama. Di antaranya adalah Asma’ul Husna, nama Nabi dan Rasul, nama-nama orang sholih, dan nama-nama istri Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bayi perempuan. 

Itulah beberapa tujuan aqiqah dan hikmah pelaksanaan aqiqah. Dengan begitu, selain mampu mendekatkan diri pada Allah , aqiqah juga dapat memberikan banyak manfaat baik pada orang tua maupun bayi yang dilahirkan. 

Doa Aqiqah

Pada pembahasan terakhir, Dalam Islam akan memaparkan mengenai doa aqiqah. Untuk lebih jelasnya, kami akan membagi doa-doa seputar aqiqah mulai dari doa sembelih hewan aqiqah hingga doa walimatul Aqiqah. Mengutip dari situs www.nu.or.id[k4] , berikut adalah doa seputar aqiqah: 

Doa Menyembelih Hewan Aqiqah

بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ [ اللهم مِنْكَ وَلَكَ ] اللهم تَقَبَّلْ مِنِّي هَذِهِ عَقِيْقَةُ
Latin: Bismillah, Allahu Akbar. Allahumma minka wa laka. Allahumma taqabba minni hadzihi aqiqatu …….. (sebut nama bayi yang diaqiqahi)

Doa Mencukur Rambut Bayi

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ أَللهم نُوْرُ السَّمَاوَاتِ وَنُوْرُالشَّمْسِ وَالْقَمَرِ, اللهم سِرُّ اللهِ نُوْرُ النُّبُوَّةِ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Latin: “Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil alamin. Allahumma nuurus samaawaati wa nuurus syamsi wal qomar. Allahumma sirrullahi nuurun nubuwwati rasulullahi shallallahu ‘alahi wa sallam wal hamdu lillahi rabbil alamin.”

Doa Walimatul Aqiqah

اللهم احْفَظْهُ مِنْ شَرِّالْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَأُمِّ الصِّبْيَانِ وَمِنْ جَمِيْعِ السَّيِّئَاتِ وَالْعِصْيَانِ وَاحْرِسْهُ بِحَضَانَتِكَ وَكَفَالَتِكَ الْمَحْمُوْدَةِ وَبِدَوَامِ عِنَايَتِكَ وَرِعَايَتِكَ أَلنَّافِذَةِ نُقَدِّمُ بِهَا عَلَى الْقِيَامِ بِمَا كَلَّفْتَنَا مِنْ حُقُوْقِ رُبُوْبِيَّتِكَ الْكَرِيْمَةِ نَدَبْتَنَا إِلَيْهِ فِيْمَا بَيْنَنَا وَبَيْنَ خَلْقِكَ مِنْ مَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَأَطْيَبُ مَا فَضَّلْتَنَا مِنَ الْأَرْزَاقِ اللهم اجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ وَأَهْلِ الْخَيْرِ وَأَهْلِ الْقُرْآنِ وَلَا تَجْعَلْنَا وَإِيَّاهُمْ مِنْ أَهْلِ الشَّرِ وَالضَّيْرِ وَ الظُّلْمِ وَالطُّغْيَانِ
Latin: “Allâhummahfadzhu min syarril jinni wal insi wa ummish shibyâni wa min jamî’is sayyiâti wal ‘ishyâni wahrishu bihadlânatika wa kafâlatika al-mahmûdati wa bidawâmi ‘inâyatika wa ri’âyatika an-nafîdzati nuqaddimu bihâ ‘alal qiyâmi bimâ kalaftanâ min huqûqi rububiyyâtika al-karîmati nadabtanâ ilaihi fîmâ bainanâ wa baina khalqika min makârimil akhlâqi wa athyabu mâ fadldlaltanâ minal arzâqi. Allâhummaj’alnâ wa iyyâhum min ahlil ‘ilmi wa ahlil khairi wa ahlil qur`âni wa lâ taj’alnâ wa iyyâhum min ahlisy syarri wadl dloiri wadz dzolami wath thughyâni.

Itulah beberapa doa aqiqah yang harus Anda ketahui. Dengan begitu, Anda dapat melaksanakan ibadah aqiqah dengan sempurna demi mendekatkan diri pada Allah .

Demikian ulasan lengkap mengenai aqiqah yang mencakup dalil aqiqah, waktu aqiqah, tata cara aqiqah, tujuan aqiqah, dan doa aqiqah. Semoga apa yang kami ulas pada kesempatan kali ini memberikan manfaat bagi Anda semua. Amin Ya Rabbal Alamin.

 [k1] [k1]https://almanhaj.or.id/856-ahkamul-aqiqah.html

 [k2]https://rumaysho.com/1091-hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html
 [k3]https://rumaysho.com/1091-hadiah-di-hari-lahir-7-waktu-pelaksanaan-aqiqah.html
 [k4]http://www.nu.or.id/post/read/83091/doa-doa-seputar-aqiqah

0 Response to "Aqiqah: Dalil, Waktu Pelaksanaan, Tata Cara, Tujuan, dan Doa Aqiqah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel