Macam-Macam Puasa Sunnah Lengkap Beserta Keutamaannya


Seperti yang kita tahu, puasa sunnah merupakan jenis puasa yang dapat dilakukan oleh setiap muslim pada waktu-waktu yang ditentukan. Hanya saja, waktu melakukan puasa sunnah terbilang lebih fleksibel dibandingkan puasa wajib. Puasa merupakan salah satu ibadah yang dapat dilakukan oleh setiap muslim untuk mendekatkan diri kepada Allah . Ada banyak sekali manfaat puasa baik dari segi lahiriyah maupun batiniyah. 

Macam-Macam Puasa Sunnah Lengkap Beserta Keutamaannya

Pada kesempatan kali ini, Dalam Islam akan mencoba menjelaskan secara mendalam mengenai pengertian puasa sunnah, macam-macam puasa sunnah dan manfaatnya, hikmah puasa sunnah, fadhilah puasa sunnah, puasa sunnah dalam kehidupan sehari-hari, hingga permasalahan dalam puasa sunnah.
Oleh karena itu, untuk memahami lebih mendalam mengenai puasa sunnah, Anda dapat membaca ulasan berikut hingga akhir. Semoga bermanfaat. 

Pengertian Puasa Sunnah

Sebelum membahas lebih jauh mengenai puasa sunnah, alangkah baiknya jika Anda memahami apa pengertian puasa sunnah itu sendiri. Mengutip dari situs www.seputarpengetahuan.co.id[k1] , puasa merupakan upaya menahan diri dari segala perkara yang dapat membatalkan puasa yang dimulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Sedangkan sunnah merupakan hukum dalam Islam, yang apabila perkara tersebut dilakukan maka akan memberikan pahala, namun jika ditinggalkan, tidaklah mengapa.
Dengan kata lain, puasa sunnah merupakan jenis ibadah puasa yang dapat dilakukan untuk mendekatkan diri pada Allah , demi memperoleh ridho-Nya. Jika puasa sunnah dilakukan, maka muslim akan mendapatkan ganjaran, namun jika tidak dilaksanakan, maka tidak akan menyebabkan dosa. 

Macam Macam Puasa Sunnah dan Manfaatnya

Berbicara mengenai macam-macam puasa sunnah, ada banyak sekali jenis puasa sunnah yang dapat dilakukan. Setidaknya berikut adalah beberapa jenis puasa sunnah beserta manfaatnya.

1. Puasa Daud

Mengutip dari situs bersamadakwah.net[k2] , puasa daud merupakan salah satu jenis puasa sunnah terbaik. Disebut puasa Daud karena puasa sunnah ini dilandaskan pada ibadah Nabi Daud ‘alaihissalam. Adapun landasan dasar yang menjadikan puasa Daud sebagai jenis puasa sunnah yang paling dicintai oleh Allah adalah pada hadits berikut:

أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللَّهِ صِيَامُ دَاوُدَ ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا ، وَأَحَبُّ الصَّلاَةِ إِلَى اللَّهِ صَلاَةُ دَاوُدَ ، كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ
Artinya: “Puasa yang paling disukai oleh Allah adalah puasa Nabi Daud. Ia berpuasa satu hari lalu berbuka satu hari. Dan sholat yang paling disukai oleh Allah adalah sholat Nabi Daud. Ia tidur seperdua malam, bangun sepertinya, lalu tidur seperenamnya.” (HR. Bukhari dan Muslim no. 1159).

Dari hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa Nabi Daud ‘alahissalam melakukan puasa satu hari, lalu tidak berpuasa di hari berikutnya. Kemudian beliau berpuasa lagi, lalu berbuka. Begitu seterusnya.
Kemudian mengenai manfaat puasa daud, mengutip dari situs doktersehat.com[k3] , manfaat puasa daud adalah mencegah tubuh sering sakit, menguatkan fisik, membuang racun dalam tubuh, menekan hawa nafsu, dan yang paling penting adalah mendapatkan ridho dari Allah .

2. Puasa Rajab

Macam puasa sunnah yang selanjutnya adalah puasa Rajab. Seperti namanya, puasa ini dilaksanakan di bulan Rajab. Meskipun termasuk jenis puasa yang banyak dikerjakan oleh muslim, tak hanya di Indonesia saja, namun ternyata ada perbedaan pendapat mengenai puasa sunnah Rajab. Ada pendapat yang menganjurkannya, ada pula yang menafikannya.
Mengutip dari situs islami.co[k4] , terdapat hadits yang menjelaskan apakah puasa sunah Rajab dilakukan oleh Rasullullah atau tidak.

سألت سعيد بن جبير عن صوم رجب فقال سمعت بن عباس يقول كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم حتى نقول لا يفطر ويفطر حتى نقول لا يصوم
Artinya: “Saya bertanya pada Sa’id Ibn Jubair mengenai puasa Rajab. Beliau menjawab berdasarkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah senantiasa berpuasa sampai kami berkata nampaknya beliau akan berpuasa seluruh bulan. Namun suatu saat beliau tidak berpuasa sampai kami berkata, nampaknya beliau tidak akan puasa sebulan penuh.” (HR. Muslim).

Percakapan yang dituliskan pada hadits di atas dilakukan oleh Ustman Ibn Hakim kepada Sa’id Ibn Jubair.
Dari hadits di atas, Jumhur ulama’ sepakat bahwa Rasulullah memang melaksanakan puasa di bulan Rajab. Selain itu, hadits tersebut menangkal anggapan bahwa puasa Rajab adalah bid’ah.

Untuk menjelaskan perkara hukum puasa Rajab, Imam Nawawi dalam kitab Syarah Muslim mengemukakan:
الظاهر أن مراد سعيد بن جبير بهذا الاستدلال أن لا نهي عنه ولا ندب فيه لعينه بل له حكم باقي الشهور ولم يثبت في صوم رجب نهي ولا ندب لعينه ولكن أصل الصوم مندوب إليه وفي سنن أبي داود أن رسول الله صلى الله عليه وسلم ندب إلى الصوم من الأشهر الحرم ورجب أحدها
Artinya: “Maksud Sa’id Ibnu Jubaik beristidlal pada hadits ini adalah dasarnya Rasulullah tak melarang puasa Rajab, dan tidak pula menyunnahkannya. Namun, hukum puasa Rajab sama dengan puasa di bulan lainnya. Tak ada dalil khusus yang melarang puasa Rajab dan menyunnahkannya. Namun hakikatnya hukum puasa Rajab adalah sunnah. Dalam Sunan Abu Dawud dijelaskan Rasulullah menyunnahkan puasa di bulan haram (Asyhur Hurum) dan Rajab salah satu dari bulan tersebut.

Kemudian apa saja keutamaan melaksanakan puasa di bulan Rajab? Mengutip dari situs dalamislam.com[k5] , terdapat beberapa hadits yang menjelaskan mengenai keutamaan puasa Rajab.
Pertama,
“Sesunggunhnya di surga terdapat sebuah sungai bernama ‘Rajab’, warnanya lebih putih dari susu, rasanya lebih manis dari madu. Barangsiapa yang berpuasa sehari dalam bulan Rajab, ia akan diberi minum oleh Allah dari sungai tersebut.” (HR. Bukhori Muslim).
Kedua,
“Berpuasa pada hari pertama bulan Rajab dapat menghapus dosa selama 3 tahun, berpuasa pada hari kedua bulan Rajab dapat menghapus dosa selama 2 tahun, dan berpuasa pada hari ketiga bulan Rajab dapat menghapus dosa selama setahun. Kemudian untuk setiap harinya selama sebulan.” (HR. Al-Khilal dalam Fadhoil Syahrur Rojab).
Ketiga, dalam sebuah riwayat, Rasulullah ditanya: ‘Berpuasa pada bulan apakah yang lebih baik selain Ramadhan?” Beliau menjawab: “Berpuasalah pada bulan Allah, yakni bulan yang tuli.” Dalam riwayat lain dikatakan: “bulan yang melimpah”.
Mengenai hadits tersebut, Abu Ubaid berkata, maksudnya adalah bulan Rajab karena pada bulan tersebut Allah melimpahkan Rahmat-Nya. Disebut sebagai bulan tuli karena Allah mengharamkan peperangan di dalamnya.
Itulah sedikit penjelasan mengenai puasa sunnah Rajab dan keutamaannya. Wa Allahu A’lam.

3. Puasa Sunnah Senin Kamis

Puasa sunnah yang berikutnya adalah puasa senin kamis. Anda pasti sudah familiar dengan puasa ini, kan? Ya, puasa Senin Kamis dilakukan pada hari Senin dan Kamis. Pertanyaannya, apakah ada landasan hukum yang dapat dijadikan dasar dalam melakukan puasa Senin Kamis?

Macam-Macam Puasa Sunnah Lengkap Beserta Keutamaannya

Mengutip dari situs bersamadakwah.net[k6] , dalam kitab Fiqih Manhaji dijelaskan mengenai dalil bahwa puasa Senin Kamis adalah sunnah. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha :

كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يَتَحَرَّى صَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ
Artinya: “Nabi selalu menjaga puasa Senin Kamis.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

Selain itu, jumhur ulama’ juga memasukkan puasa sunah Senin Kamis sebagai ibadah yang dianjurkan untuk dilakukan. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Fiqih Islam wa Adillatuhu:

Puasa sunnah yang disepakati para ulama antara lain puasa di hari Senin dan Kamis setiap pekan berdasarkan perkataan Usama bin Zaid: ‘Nabi biasa puasa hari Senin dan Kamis. Suatu ketika beliau ditanya tentang hal itu lalu beliau bersabda: Sesungguhnya amal-amal manusia dibeberkan (kepada Allah ) pada hari Senin dan Kamis.”

Mengenai keutamaan atau manfaat melakukan puasa sunnah Senin Kamis, terdapat beberapa keutamaan. Di antaranya adalah:
Pertama, Rasulullah senantiasa melakukan puasa hari Senin dan Kamis seperti yang telah dijelaskan pada hadits di atas.
Kedua, Senin merupakan hari yang istimewa karena pada hari itulah Rasulullah dilahirkan dan pada hari itu pula lah Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah .

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ قَالَ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ
Artinya: “Nabi ditanya mengenai puasa pada hari Senin. Beliau bersabda: ‘Itu adalah hari kelahiranku dan pada hari itu wahyu diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim).

Ketiga, pada hari Senin dan Kamis, amal perbuatan manusia diperlihatkan. Oleh karena itulah, betapa beruntungnya manusia yang menjalankan puasa Senin dan Kamis. Hal ini tertuang pada hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi:

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Diperlihatkan amal-amal pada setiap hari Kamis dan Senin. Maka aku ingin amalku diperlihatkan pada saat aku berpuasa.” (HR. Tirmidzi)

Keempat, pada hari Senin dan Kamis, pintu surga dibuka. Hal tersebut tentu menunjukkan betapa mulianya hari tersebut. Adapun hadits yang melandasinya adalah:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ
Artinya: “Pintu-Pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tak menyekutukan Allah dengan sesuatu diampuni kecuali seseorang yang di antara dirinya dengan saudaranya terdapat permusuhan.” (HR. Muslim).

4. Puasa Sunnah Ayyamul Bidh

Macam puasa sunnah yang selanjutnya adalah puasa sunnah ayyamul bidh. Apakah itu? Puasa sunnah Ayyamul Bidh merupakan jenis puasa sunnah yang dilakukan pada tanggal 13,14, dan 15 Hijriyah. Puasa sunnah ini disebut juga dengan puasa putih karena bertepatan dengan datangnya bulan purnama.
Mengutip dari situs www.niatpuasa.com, terdapat beberapa landasan dalil dalam melaksanakan puasa Ayyamul Bidh. Salah satunya datang dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Kekasihku (yaitu Rasulullah ) mewasiatkan padaku tiga nasihat yang tidak akan meninggalkanku hingga aku mati. Pertama adalah puasa tiga hari setiap bulan. Kedua mengerjakan sholat Dhuha. Dan ketiga adalah mengerjakan shalat witir sebelum tidur.”

Selain itu, terdapat dalil yang memperkuat bahwa puasa sunnah Ayyamul Bidh sangat dianjurkan. Dalil tersebut datang dari Abu Dzar bahwa Rasulullah bersabda:
Jika engkau ingin berpuasa tiga hari setiap bulan, maka berpuasalah di tanggal 13, 14, dan 15 (dari bulan Hijriyah).
Dari penjelasan singkat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa terdapat beberapa keutamaan menjalankan puasa Ayyamul Bidh. Di antaranya adalah:
  • Menghidupkan Sunnah Rasulullah
  • Menjalankan puasa 3 hari setiap bulan sama halnya dengan menjalankan puasa sepanjang tahun.
  • Memperbesar pahala yang akan didapatkan di akhirat kelak.
  • Membuat hidup lebih tenang karena dapat memaknai arti ketaqwaan kepada Allah .
Untuk niat puasa sunnah ayyamul bidh, setiap muslim dapat berniat puasa dalam hati dengan mengucapkan “Nawaitu Shouma Ayyamal Bidh Sunnatan Lillahi Ta’ala”.

5. Puasa Sunnah Sya’ban

Jenis puasa sunnah yang berikutnya adalah puasa Sya’ban. Seperti yang kita tahu, bulan Sya’ban memiliki banyak keutamaan dibandingkan dengan bulan biasa. Pada bulan tersebut, seorang muslim juga dianjurkan untuk melakukan ibadah puasa sunnah demi mendekatkan diri kepada Allah .
Mengenai waktu pelaksanaannya, puasa sunnah Syaban dilaksanakan pada bulan Sya’ban. Beberapa ulama’ berpendapat bahwa waktu pelaksanaannya adalah pada tanggal 1 – 15 Sya’ban. Sebagian lagi tidak menentukan tanggal pasti kapankah puasa Sya’ban dilakukan. Jadi selama berada di bulan Sya’ban, seorang muslim dapat memperbanyak ibadah puasa.
Adapun dalil yang menjadikan puasa Sya’ban, mengutip dari situs muslim.or.id[k7] , dari Usamah bin Zaid, beliau berkata: ‘Katakanlah wahai Rasulullah , aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan-bulan selain di bulan Sya’ban”. Kemudian Nabi bersabda,

: ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
Artinya: “Bulan Sya’ban adalah bulan dimana manusia mulai lalai yaitu antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah , Tuhan Semesta Alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. Nasa’I. Hadits ini Hasan menurut pendapat Syaikh al-Albani).

Dalil lain yang memperkuat anjuran berpuasa di bulan Sya’ban adalah dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau mengatakan:

انَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
Artinya: “Rasulullah biasa berpuasa, sampai kami katakan bahwa beliau tidak berbuka. Beliau pun berbuka sampai katakan bahwa beliau tidak berpuasa. Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasulullah berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat beliau berpuasa lebih banyak daripada berpuasa di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhoni nomor 1969 dan Muslim nomor 1156).

Dari penjelasan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sangat dianjurkan bagi umat muslim untuk melakukan puasa Sya’ban. Wallahu A’lam.

6. Puasa Sunnah Mutlak

Pernahkah Anda mendengar tentang puasa mutlak? Sekedar informasi, ini merupakan jenis puasa sunnah yang tidak terikat oleh sebab dan waktu. Misalnya ketika seorang muslim bangun tidur ketika shubuh dan belum memakan/meminum apapun, kemudian ia ingin berpuasa, maka diperbolehkan melakukannya.
Mengutip dari situs konsultasisyariah.com[k8] , puasa mutlak merupakan puasa yang tidak terkait dengan sebab dan waktu. (lihat kitab Hasyiah ad-Dasuqy ‘Ala asy-Syarh al-Kabir 1/542).
Adapun dalil yang mendasarinya adalah:

عن عائشة أم المؤمنين قالت : دخل على النبي صلى الله عليه و سلم ذات يوم فقال هل عندكم شيء ؟ فقلنا لا قال فإنى إذن صائم ثم أتانا يوما آخر فقلنا يا رسول الله أهدي لنا حيس فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما فأكل
Artinya: “Dari ‘Aisyah, ia berkata: Suatu hari Nabi mendatangiku dan berkata: ‘Apakah kalian mempunyai sesuatu (yakni makanan)?’ Maka kami menjawab: Tidak. Beliau lalu berkata: ‘Kalau begitu aku berpuasa’. Kemudian beliau mendatangi kami pada hari yang lain, maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah hais (nama makanan). Beliau berkata: ‘Perlihatkan kepadaku! Sungguh aku sebenarnya berpuasa pagi ini”. Kemudian beliau memakannya (membatalkan puasanya).” (HR. Muslim)

Meski demikian, melakukan puasa sunnah mutlak tidak diperbolehkan pada hari-hari diharamkannya puasa. Misalnya puasa 2 hari raya ataupun hari tasyriq.

7. Puasa Sunnah Arafah

Macam puasa sunnah yang selanjutnya adalah puasa Arafah. Puasa Arafah merupakan puasa sunnah yang dilakukan di tanggal 9 Dzulhijjah.
Hukum dari puasa Arafah adalah Sunnah Muakkadah (sangat dianjurkan) bagi muslim yang tidak sedang menjalankan ibadah haji. Sedangkan bagi kaum muslim yang sedang berhaji, maka tidak terdapat keutamaan dalam menjalankan puasa Arafah. Mengutip dari situs bersamadakwah.net[k9] , terdapat dalil yang mendasari hal tersebut:

عَنْ عِكْرِمَةَ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى أَبِى هُرَيْرَةَ فِى بَيْتِهِ فَسَأَلْتُهُ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ
Artinya: “ Dari Ikrimah, ia berkata: ‘Aku masuk ke rumah Abu Hurairah dan bertanya tentang puasa hari Arafah bagi (muslim yang sedang berhaji) di Arafah. Lalu Abu Hurairah menjawab, “Rasulullah melarang puasa hari Arafah di Arafah”. (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Hukum puasa Arafah juga dijelaskan oleh Prof.Dr.Wahbah az-Zuhaili dalam kitab Fiqih Islam wa Adilatuhu. Penjelasannya adalah sebagai berikut:
“Bagi orang yang sedang menunaikan haji, tak disunnahkan puasa hari Arafah. Bahkan disunnahkan untuk tak berpuasa meskipun ia kuat agar tersedia kekuatan untuk berdoa serta mengikuti sunnah. Sedangkan menurut pendapat ulama madzhab Hanafi, orang yang sedang berhaji namun ia kuat berpuasa, maka diperbolehkan.”
Lantas apa saja keutamaan yang diperoleh muslim ketika menjalankan puasa Sunnah Arafah? Mengutip dari situs bersamadakwah.net[k10] , keutamaannya adalah sebagai dapat menghapuskan dosa satu yang yang lalu dan yang akan datang. Mengenai hal ini, terdapat beberapa hadits yang memperkuatnya.

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Artinya: “Rasulullah ditanya mengenai puasa hari Arafah. Beliau bersabda: “Menghapuskan dosa satu tahun lalu dan satu yang akan datang”. (HR. Muslim)
صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِى قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِى بَعْدَهُ
Artinya: “Puasa hari Arafah, aku berharap kepada Allah menghapuskan dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya”. (HR. Muslim)
مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ غُفِرَ لَهُ سَنَةٌ أَمَامَهُ وَسَنَةٌ بَعْدَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa pada hari Arafah, maka ia diampuni dosa-dosanya setahun yang di depannya dan setahun setelahnya”. (HR. Ibnu Majah).

Wallahu A’lam.

8. Puasa Sunnah Syawal

Puasa sunnah syawal merupakan ibadah puasa yang dilakukan pada awal bulan Syawal, atau bulan setelah Ramadhan. Tak sedikit umat muslim yang menjalankan puasa Syawal karena keutamaannya yang luar biasa.

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا رواه ابن ماجه والنسائي ولفظه
Artinya: “Dari Tsauban maula (pembantu) Rasulullah , dari Rasulullah , beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang melakukan puasa 6 hari setelah hari raya ‘Idul Fitri, maka itu akan menjadi penyempurna puasa satu tahun. Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya.”

Mengenai pelaksanannya, puasa sunnah Syawal dilaksanakan setelah hari raya Idul Fithri, yakni tanggal 2 Syawal.
Lantas apakah puasa Syawal dilakukan secara berturut-turut ataukah boleh terpisah-pisah selama masih berada di bulan Syawal. Mengenai hal ini, mengutip dari situs bincangsyariah.com[k11] , Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim berpendapat bahwa mayoritas madzhab Syafi’I mengatakan yang paling utama adalah secara berturut-turut. Namun apabila tidak berurutan, maka seseorang tetap akan mendapatkan keutamaan puasa Syawal.
Pendapat di atas berlandaskan pada Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا
Artinya: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).

Adapun keutamaan puasa Syawal adalah seperti berpuasa setahun penuh. Hal ini berlandaskan pada sabda Rasulullah :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
Artinya: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim nomor 1164).

Oleh karena itu, sangat dianjurkan bagi kita seorang muslim untuk menjalankan puasa sunnah Syawal demi mendapatkan keridhoan-Nya. 

Hikmah Puasa Sunnah

Anda telah mengetahui macam-macam puasa sunnah dan manfaatnya. Kini saatnya mengetahui apa saja hikmah yang terkandung dalam puasa sunnah. Seperti yang kita tahu, setiap ibadah yang kita lakukan pasti memiliki hikmah di dalamnya, begitu halnya dengan puasa sunnah.
Mengutip dari situs dalamislam.com[k12] , terdapat beberapa hikmah dalam menjalankan puasa sunnah. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Melatih Diri dalam Melawan Hawa Nafsu

Hikmah puasa sunnah yang pertama adalah melatih diri dalam melawan hawa nafsu. Hal ini karena menjalankan puasa bukanlah hal yang mudah dilakukan, terutama bagi yang tidak terbiasa. Terlebih ada banyak hal yang membatalkan puasa seperti makan, minum, berhubungan suami istri, dan lain sebagainya. Selain itu, dengan berpuasa, maka kita sebagai manusia akan lebih mampu mengontrol diri dari emosi, amarah, serta hawa nafsu yang dapat merusak diri kita.

2. Mengajarkan untuk Hidup Sederhana

Melakukan ibadah puasa, baik sunnah ataupun puasa wajib, akan membuat kita dapat hidup lebih sederhana. Pasalnya ketika berpuasa, kita menahan diri untuk tidak makan, minum, serta melakukan hal-hal yang bersifat duniawi. Hal ini sekaligus akan melatih diri untuk tidak dapat hidup berempati kepada sesama manusia yang kurang beruntung.

3. Menjaga Kesehatan Tubuh

Hikmah puasa sunnah yang berikutnya adalah dapat menjaga kesehatan tubuh. Menurut medis, berpuasa akan membuat tubuh lebih cepat melakukan proses detoksifikasi atau membuang racun dalam tubuh. Hal tersebut tentu akan membuat tubuh lebih sehat dan bugar. Bahkan tak sedikit pula pengobatan yang dapat dilakukan dengan melakukan puasa seperti pada penderita diabetes, obesitas, dan lain sebagainya.

4. Membiasakan Diri untuk Beristiqomah dalam Melaksanakan Ibadah

Seperti yang telah dijelaskan di atas, jenis puasa sunnah sangat banyak. Apabila sebagai muslim kita dapat melakukan hal tersebut, maka diri kita akan terbiasa dalam melakukan ibadah secara istiqomah. Tujuannya tentu saja untuk mendekatkan diri kepada Allah . Amin ya Rabbal Alamin

5. Menghidupkan Sunnah Rasulullah

Hikmah lain yang dapat diperoleh muslim selama menjalankan puasa adalah menghidupkan sunnah Rasulullah . Dengan begitu, maka kita akan mendapatkan manfaat yang terus mengalir, baik berupa pahala ataupun kebahagiaan menjadi umat Rasulullah .
Itulah beberapa hikmah puasa sunnah yang dapat diperoleh sebagai umat muslim. Dengan begitu, kita dapat senantiasa beribadah kepada Allah secara istiqomah demi memperoleh ridho-Nya. 

Permasalahan dalam Puasa Sunnah

Setelah mengetahui macam-macam puasa sunnah serta manfaatnya, kini saatnya Anda memahami tentang beberapa permasalahan yang kerap muncul dalam menjalankan puasa. Contohnya adalah lupa niat, memilih menjalankan puasa sunnah atau melayani suami, dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya, Anda dapat menyimak ulasan berikut.

Puasa Sunnah Lupa Niat

Dalam menjalankan puasa, niat berpuasa memang dibutuhkan, termasuk dalam ibadah puasa sunnah. Hal yang menjadi permasalahan adalah bagaimana jika ternyata seorang muslim lupa untuk niat berpuasa hingga masuk waktu fajar (Shalat Shubuh) tiba?
Dalam hal ini, terdapat perbedaan pendapat ulama’. Ada yang memperbolehkan, ada pula yang tidak memperbolehkan. Landasan dalil tidak diperbolehkannya puasa jika lupa niat hingga masuk fajar adalah:

مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ
Artinya: “Barangsiapa yang tidak berniat sebelum fajar (Shubuh), maka puasanya tidak sah.” (HR. Tirmidzi no 730, Abu Daud no 2454, dan Nasa’i no 2333. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Meski demikian, terdapat hadits lain yang menjelaskan diperbolehkannya puasa sunnah, meskipun lupa niat, selama belum menginjak waktu siang. Mengutip dari situs muslim.or.id [k13] :

عن عائشة أم المؤمنين قالت : دخل على النبي صلى الله عليه و سلم ذات يوم فقال هل عندكم شيء ؟ فقلنا لا قال فإنى إذن صائم ثم أتانا يوما آخر فقلنا يا رسول الله أهدي لنا حيس فقال أرينيه فلقد أصبحت صائما فأكل
Artinya: “Dari ‘Aisyah, ia berkata: Suatu hari Nabi mendatangiku dan berkata: ‘Apakah kalian mempunyai sesuatu (yakni makanan)?’ Maka kami menjawab: Tidak. Beliau lalu berkata: ‘Kalau begitu aku berpuasa’. Kemudian beliau mendatangi kami pada hari yang lain, maka kami berkata: Wahai Rasulullah, kita telah diberi hadiah hais (nama makanan). Beliau berkata: ‘Perlihatkan kepadaku! Sungguh aku sebenarnya berpuasa pagi ini”. Kemudian beliau memakannya (membatalkan puasanya).” (HR. Muslim no. 1154)

Imam Nawawi mengatakan, “Dalil di atas merupakan dalil yang digunakan oleh jumhur ulama’ bahwa boleh berniat di siang hari sebelum zawal (bergesernya matahari ke Barat) pada puasa sunnah.” (Syarh Shahih Muslim, 8: 33).
Pendapat tersebut juga senada dengan keputusan al Lajnah ad Daimah, Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia, yakni jika puasa sunnah, maka diperbolehkan niat di siang hari. Sedangkan apabila itu puasa wajib, maka tidak sah puasanya. Niat puasa wajib harus dilakukan sebelum Shubuh. (Fatwa al Lajnah ad Daimah no. 17468 juz 9 halaman 150).

Puasa Sunnah atau Menghadiri Undangan

Permasalahan lain yang mungkin juga dihadapi oleh umat Islam adalah bagaimana jika kita sedang berpuasa sunnah, namun di waktu yang sama terdapat undangan (makan)? Sikap seperti apa yang harus kita lakukan?
Untuk menjawab hal tersebut, mengutip dari situs konsultasisyariah.com[k14] , diperbolehkan untuk membatalkan puasa sunnah namun sangat dianjurkan untuk tidak membatalkannya. Dalam hal ini, terdapat dalil yang dapat dijadikan landasan dalam membatalkan puasa sunnah, yakni:

الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيرُ نَفْسِهِ، إِنْ شَاءَ صَامَ، وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ
Artinya: “Orang yang melakukan puasa sunnah, menjadi penentu dirinya. Apabila ingin melanjutkan, ia dapat melanjutkannya, dan apabila ia ingin membatalkan, maka diperbolehkan.” (HR. Ahmad no. 26893 dan Turmudzi no. 732. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani).

Meski demikian, ketika kita diundang dalam sebuah acara atau jamuan, Rasulullah memerintahkan orang yang diundang acara makan agar datang, meskipun tidak memakan makannya. Hal ini sesuai dengan hadits

إِذَا دُعِيَ أَحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ، فَلْيُجِبْ، فَإِنْ شَاءَ طَعِمَ، وَإِنْ شَاءَ تَرَكَ
Artinya: “Apabila kalian diundang acara makan-makan maka hadirilah. Jika mau dia makan jika tidak maka boleh tidak makan.” (HR. Muslim no 1430)
إِذَا دُعِيَ أحَدُكُمْ إِلَى طَعَامٍ وَهُوَ صَائِمٌ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ
Artinya: “Apabila kalian diundang untuk makan-makan, sementara kalian sedang puasa, maka sampaikanlah: Saya sedang puasa.” (HR. Muslim no 1150).
إِذَا دُعِىَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ
Artinya: “Apabila kalian diundang acara makan-makan, hadirilah. Jika sedang berpuasa, maka doakanlah. Dan jika tidak puasa, maka makanlah.” (HR. Muslim no 3593).

Dari beberapa hadits di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa seorang muslim tidak harus membatalkan puasanya ketika diundang ke dalam sebuah jamuan. Hal yang harus diperhatikan adalah menghadiri undangan tersebut, bukan untuk memakan jamuannya. Jadi apabila Anda sedang berpuasa, cukup katakana kepada orang yang mengundang Anda bahwa Anda sedang berpuasa. Namun apabila Anda ingin membatalkan puasa sunnah tersebut, maka tidak apa-apa.

Puasa Sunnah atau Melayani Suami

Permasalahan lain yang juga sering muncul adalah manakah yang harus dipilih antara melanjutkan puasa sunnah atau melayani suami? Pasalnya berpuasa sunnah tentu memberikan keutamaan tersendiri bagi muslim/muslimah yang melakukannya. Begitu halnya dengan melayani suami (berhubungan intim).
Mengutip dari situs islamqa.info[k15] , orang yang berpuasa sunnah dapat mengatur dirinya sendiri. Ia dapat menyempurnakan puasanya dan dapat pula membatalkannya, namun menyempurnakan puasa lebih utama hukumnya.
Syeikh Ibnu Utsaimin berkata, ‘Apabila seorang istri sedang berpuasa sunnah atas izin suaminya, maka tak halal bagi suami untuk merusak puasa istrinya (karena ia telah mengizinkannya).
Namun bagaimana apabila ketika istri sedang berpuasa sunnah lalu suami meminta untuk berhubungan intim? Apakah lebih baik istri terus berpuasa dan menghalangi keinginan suaminya atau menyambut keinginan suaminya tersebut (untuk berhubungan intim)? Yang kedua adalah yang utama yakni memenuhi keinginan suami. Hal ini karena memenuhi keinginan suami termasuk dalam perkara yang diwajibkan pada asalnya. Sedangkan puasa sunnah termasuk dalam perkara sunnah. (baca kitab Majmu Fatawa Ibnu Utsaimin, 21/174).
Wa Allahu A’lam

Puasa Sunnah Belum Mandi Junub

Sebuah pertanyaan yang mungkin pernah muncul di benak muslim. Bagaimana hukum puasa sunnah tanpa mandi wajib? Atau bagaimana jika kita sudah niat berpuasa sunnah namun lupa tidak mandi wajib/junub? Untuk menjawab hal tersebut, simak penjelasan berikut.
Mengutip dari situs konsultasisyariah.com[k16] , mandi wajib bukanlah syarat sah untuk berpuasa. Hal ini berbeda dengan thawaf di Ka’bah ataupun sholat, yang harus suci dari hadast kecil maupun besar. Sedangkan suci dari hadats bukanlah syarat berpuasa. Untuk itu, orang yang belum mandi wajib hingga Shubuh masih tetap dapat berpuasa. Hal tersebut sesuai dengan hadits dari ‘Aisyah dan Ummu Salamah, mereka menceritakan:

كَانَ يُدْرِكُهُ الْفَجْرُ وَهُوَ جُنُبٌ مِنْ أَهْلِهِ ، ثُمَّ يَغْتَسِلُ وَيَصُومُ
Artinya: “Nabi memasuki waktu Shubuh, sementara beliau sedang junub karena berhubungan dengan istrinya. Kemudian beliau mandi dan berpuasa.” (HR. Bukhari no. 1926 dan Turmudzi no. 779).

Kesimpulannya, puasa sunnah belum mandi wajib hukumnya diperbolehkan. Namun apabila Anda ingin sholat Shubuh, maka harus mandi wajib terlebih dahulu agar terbebas dari hadats.
Demikian ulasan lengkap mengenai puasa sunnah, macam-macam puasa sunnah dan keutamaannya, hingga berbagai permasalahan dalam puasa sunnah. Semoga ulasan yang dipaparkan oleh Dalam Islam ini dapat memberikan manfaat bagi Anda. Amin Ya Robbal Alamin.

 [k1]https://www.seputarpengetahuan.co.id/2015/08/pengertian-puasa-dan-macam-macam-puasa-terlengkap.html
 [k2]https://bersamadakwah.net/puasa-daud/
 [k3]https://doktersehat.com/manfaat-puasa-daud/
 [k4]https://islami.co/pernahkah-rasulullah-puasa-rajab/
 [k5]https://dalamislam.com/puasa/keutamaan-puasa-rajab
 [k6]https://bersamadakwah.net/puasa-senin-kamis/
 [k7]https://muslim.or.id/15917-anjuran-puasa-syaban.html
 [k8]https://konsultasisyariah.com/793-adakah-puasa-sunnah-mutlak.html
 [k9]https://bersamadakwah.net/niat-puasa-arafah/
 [k10]https://bersamadakwah.net/niat-puasa-arafah/
 [k11]https://bincangsyariah.com/ubudiyah/waktu-terbaik-melaksanakan-puasa-syawal/
 [k12]https://dalamislam.com/puasa/hikmah-puasa-sunnah
 [k13]https://muslim.or.id/21560-berniat-puasa-setelah-shubuh.html
 [k14]https://konsultasisyariah.com/18854-membatalkan-puasa-karena-undangan.html
 [k15]https://islamqa.info/id/answers/110059/suami-menggauli-isterinya-saat-isterinya-berpuasa-sunah
 [k16]https://konsultasisyariah.com/19428-bolehkah-puasa-tanpa-mandi-wajib.html

0 Response to "Macam-Macam Puasa Sunnah Lengkap Beserta Keutamaannya"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel